banner 728x250

KETIKA KESEIMBANGAN DUNIA RETAK DI BULAN RAMADHAN.

Catatan Akhir Pekan Adi Warman.

banner 120x600

Sorotistananews.com, JAKARTA- Ramadhan 1447 H hadir dalam suasana dunia yang kembali bergetar. Dentuman senjata di Timur Tengah bukan sekadar kabar jauh di layar berita. Ia adalah tanda bahwa keseimbangan global sedang diuji. Serangan yang melibatkan Israel, Amerika Serikat, dan Iran memperlihatkan satu kenyataan lama yang terus berulang: ketika keamanan dikejar dengan dominasi, stabilitas menjadi rapuh.

Setiap kekuatan besar selalu berbicara atas nama keamanan. Namun sejarah mengajarkan bahwa keamanan yang dibangun tanpa keadilan hanya melahirkan perlawanan baru. Serangan melahirkan balasan. Balasan memicu eskalasi. Dan kawasan yang sudah lama rentan kembali menjadi titik api geopolitik dunia.

banner 325x300

Dalam teori hubungan internasional, keseimbangan kekuatan—balance of power—adalah fondasi stabilitas. Tetapi keseimbangan yang hanya bertumpu pada superioritas militer tidak pernah benar-benar kokoh. Ia mudah retak ketika rasa keadilan terabaikan. Dunia hari ini tidak hanya menyaksikan konflik regional, tetapi juga pergeseran hegemoni. Amerika Serikat berusaha mempertahankan pengaruhnya, Rusia dan China tampil sebagai penyeimbang, sementara negara-negara Global South mencari ruang kemandirian. Dunia bergerak dari dominasi tunggal menuju fragmentasi multipolar.

Indonesia memiliki posisi yang tidak kecil dalam dinamika ini. Sebagai negara dengan umat Islam terbesar dan sekaligus bagian dari komunitas global, Indonesia dituntut menjaga keseimbangan antara moralitas dan kepentingan nasional. Keikutsertaan dalam berbagai forum internasional harus dimaknai sebagai kontribusi kemanusiaan dan diplomasi, bukan sebagai pergeseran blok kekuatan.

 Eskalasi konflik tidak hanya berdampak pada kawasan. Ia menyentuh ekonomi global, harga energi, stabilitas fiskal, dan bahkan ketenangan sosial di dalam negeri. Perang di luar wilayah sering kali bergaung di ruang publik domestik. Karena itu, kebijaksanaan dalam bersikap menjadi kebutuhan strategis, bukan sekadar pilihan moral.

Ironisnya, semua ini terjadi di bulan Ramadhan—bulan ketika umat dilatih menahan diri. Puasa mengajarkan pengendalian terhadap ego dan amarah. Dalam konteks geopolitik, pengendalian diri itu berarti memberi ruang pada diplomasi, bukan memperluas konfrontasi. Dunia tidak kekurangan senjata canggih. Yang semakin langka adalah kesediaan untuk berhenti sejenak dan memilih jalan damai.

Retaknya keseimbangan dunia bukan hanya persoalan militer. Ia adalah krisis kepercayaan dan krisis keadilan. Jika keseimbangan kekuatan tidak disertai keseimbangan moral, maka stabilitas hanya menjadi jeda sementara.

Ramadhan 1447 H semestinya menjadi pengingat bahwa peradaban dibangun bukan oleh dominasi, tetapi oleh keadilan. Indonesia harus tetap berdiri di sisi kewarasan—tegas terhadap pelanggaran prinsip, tetapi konsisten mendorong dialog.

Karena pada akhirnya, dunia tidak membutuhkan kemenangan satu pihak. Dunia membutuhkan keseimbangan yang berkeadilan.

” Selamat Menjalankan Ibadah Puasa Semoga Amal Ibadahnya Diterima Allah SWT. Aamiin YRA.”-**

AW-01+03+26

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *