banner 728x250

PANCASILA DAN KEJUJURAN MELIHAT BANGSA.

Catatan 1 Juni Adi Warman

Oplus_131072
banner 120x600

Sorotistananews.com, JAKARTA- Setiap tanggal 1 Juni, bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Peringatan ini seharusnya tidak berhenti pada upacara, pidato, spanduk, atau unggahan media sosial. Lebih dari itu, 1 Juni perlu menjadi ruang hening bagi kita semua untuk bertanya dengan jujur: sejauh mana Pancasila benar-benar hidup dalam sikap, kebijakan, dan kenyataan bangsa Indonesia hari ini?

Pancasila sering disebut sebagai dasar negara, ideologi bangsa, dan pemersatu Indonesia. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, Pancasila tidak cukup hanya dihafal. Ia harus diuji dalam tindakan. Ia harus terlihat dalam cara kita memperlakukan sesama, dalam cara pemimpin menggunakan kekuasaan, dalam cara hukum ditegakkan, serta dalam cara pembangunan dirasakan oleh seluruh rakyat.

Secara objektif, bangsa Indonesia telah memiliki banyak capaian. Di tengah keberagaman suku, agama, budaya, bahasa, dan kepentingan politik, Indonesia masih berdiri sebagai satu bangsa. Demokrasi tetap berjalan, pembangunan terus berlangsung, pendidikan semakin meluas, dan masyarakat tetap memiliki daya gotong royong yang kuat. Dalam banyak keadaan sulit, rakyat Indonesia sering menunjukkan bahwa solidaritas sosial masih hidup.

banner 325x300

Namun, objektivitas juga menuntut keberanian untuk melihat sisi yang belum ideal. Kita masih menyaksikan ketimpangan ekonomi, kemiskinan, korupsi, intoleransi, konflik kepentingan, lemahnya keteladanan, serta hukum yang kadang terasa tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas. Di ruang publik, perbedaan pendapat sering berubah menjadi permusuhan. Media sosial yang seharusnya menjadi ruang pengetahuan, kadang justru menjadi tempat penyebaran kebencian, fitnah, dan saling merendahkan.

Di sinilah Pancasila perlu dibaca kembali, bukan sebagai slogan, tetapi sebagai cermin.

Sila Ketuhanan Yang Maha Esa mengingatkan bahwa kehidupan beragama seharusnya melahirkan akhlak, kerendahan hati, dan penghormatan terhadap sesama. Berketuhanan tidak boleh menjadi alasan untuk membenci, memaksa, atau merendahkan orang lain. Semakin kuat iman seseorang, seharusnya semakin kuat pula rasa kasih, kejujuran, dan tanggung jawab sosialnya.

Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab menuntut agar pembangunan tidak mengabaikan martabat manusia. Rakyat kecil, buruh, petani, nelayan, guru, tenaga kesehatan, masyarakat adat, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan harus menjadi bagian penting dari perhatian negara. Kemanusiaan bukan hanya belas kasihan, tetapi keberpihakan nyata kepada keadilan.

Sila Persatuan Indonesia sangat relevan di tengah polarisasi. Perbedaan pilihan politik, agama, daerah, atau pandangan tidak boleh membuat kita kehilangan rasa sebangsa. Persatuan bukan berarti semua harus sama, melainkan kemampuan untuk tetap saling menghormati meskipun berbeda. Indonesia terlalu besar untuk dipersempit oleh fanatisme kelompok.

Sila Kerakyatan mengingatkan bahwa demokrasi bukan hanya soal pemilu, tetapi juga soal mendengar suara rakyat. Kekuasaan harus dijalankan dengan hikmat, musyawarah, dan tanggung jawab. Kritik tidak boleh dianggap sebagai permusuhan. Sebaliknya, kritik yang jujur adalah bagian dari cinta kepada bangsa.

Sila Keadilan Sosial adalah ujian paling nyata. Rakyat tidak hanya membutuhkan janji, tetapi bukti. Keadilan sosial harus terasa dalam harga kebutuhan pokok, lapangan kerja, pendidikan yang layak, pelayanan kesehatan, akses hukum, dan kesempatan hidup yang lebih baik. Negara yang berpancasila tidak boleh membiarkan sebagian kecil orang menikmati terlalu banyak, sementara sebagian besar rakyat berjuang terlalu berat.

Oplus_131072

Maka, Catatan 1 Juni ini bukan untuk menyalahkan siapa-siapa secara sempit. Ini adalah renungan bersama. Pancasila bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga tugas warga negara. Pemerintah wajib adil dan bersih. Pemimpin wajib memberi teladan. Aparat wajib melindungi rakyat. Tetapi masyarakat juga wajib menjaga persaudaraan, tidak mudah menyebar kebencian, tidak menjual suara, tidak merusak lingkungan, dan tidak membenarkan ketidakjujuran hanya karena menguntungkan kelompok sendiri.

Pancasila akan kehilangan makna jika hanya dipakai sebagai alat seremonial. Ia akan menjadi kuat bila hadir dalam kejujuran, keberanian membela yang benar, kesediaan menghormati perbedaan, dan komitmen membangun keadilan.

Pada 1 Juni ini, bangsa Indonesia tidak cukup hanya berkata, “Saya Pancasila.” Yang lebih penting adalah bertanya: apakah cara kita beragama, berpolitik, bekerja, memimpin, berdagang, berbicara, dan memperlakukan sesama sudah mencerminkan Pancasila?

Jika belum, maka Hari Lahir Pancasila adalah panggilan untuk memperbaiki diri. Bukan dengan kemarahan, bukan dengan saling menuduh, tetapi dengan kesadaran bahwa masa depan Indonesia hanya bisa dijaga oleh bangsa yang jujur kepada dirinya sendiri.

Pancasila lahir sebagai dasar pemersatu. Kini, tugas kita adalah menjadikannya dasar untuk memperbaiki kenyataan.

Selamat memperingati Hari Lahir Pancasila. Semoga Indonesia tidak hanya besar dalam semboyan, tetapi juga adil dalam kenyataan.

Penulis Adalah Mantan Guru PMP (Pendidikan Moral Pancasila) di SMP – SMA dan Penatar P-4.-**

AW = 01+06+26.
banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *